Ibadah qurban bukan sekadar ritual tahunan penyembelihan hewan pada Hari Raya Iduladha. Dalam kajian Islam yang disampaikan oleh Ahmad Heryawan, qurban memiliki makna yang jauh lebih luas: membangun ketakwaan, menumbuhkan kepedulian sosial, sekaligus menggerakkan kesejahteraan umat.
Sebagai tokoh ulama dan mantan Gubernur Jawa Barat, Ustadz Aher memandang qurban sebagai bagian dari ekosistem kebaikan yang menyentuh aspek spiritual, kesehatan masyarakat, hingga pemerataan ekonomi.
Qurban sebagai Bentuk Ketakwaan dan Keikhlasan
Dalam kajiannya, Ustadz Aher menekankan bahwa qurban adalah bentuk taqarrub atau upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT. Keteladanan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS menjadi fondasi utama bagaimana seorang muslim harus menempatkan kecintaan kepada Allah di atas segala kepentingan duniawi.
Qurban juga dimaknai sebagai simbol perjuangan melawan egoisme, keserakahan, dan kecintaan berlebih terhadap harta. Hewan yang disembelih menjadi lambang dari upaya menyembelih sifat-sifat buruk dalam diri manusia.
Beliau juga mengingatkan firman Allah SWT dalam Surah Al-Hajj ayat 37 bahwa yang sampai kepada Allah bukanlah daging maupun darah hewan qurban, melainkan ketakwaan dan keikhlasan dari orang yang berqurban.
Meneladani Sunah Rasulullah SAW dalam Penyembelihan
Salah satu poin penting yang sering disampaikan Ustadz Aher adalah keberanian dan kesiapan umat Islam, khususnya laki-laki yang mampu, untuk menyembelih hewan qurbannya sendiri sesuai sunah Rasulullah SAW.
Menurut beliau, penyembelihan bukan hanya proses teknis, tetapi bagian dari ibadah yang mengandung nilai keberanian, tanggung jawab, dan penghayatan spiritual.
Keteladanan ini juga beliau praktikkan secara langsung selama menjabat sebagai pejabat publik. Dalam beberapa kesempatan, Ustadz Aher turun langsung menyembelih sapi maupun domba qurbannya sendiri di lingkungan pemerintahan maupun masjid besar di Jawa Barat.
Pentingnya Kesehatan Hewan Qurban
Dalam perspektif fikih kontemporer, Ustadz Aher juga menyoroti pentingnya aspek kesehatan dan keamanan pangan dalam ibadah qurban.
Beliau menegaskan bahwa hewan qurban harus memenuhi syarat syariat: sehat, cukup umur, dan tidak memiliki cacat fisik. Namun di era modern, pemeriksaan kesehatan hewan juga harus dilakukan secara ilmiah melalui otoritas kedokteran hewan guna mencegah penyebaran penyakit zoonosis.
Karena itu, beliau mengimbau masyarakat untuk membeli hewan qurban yang telah memiliki label atau tanda sehat dari petugas berwenang. Langkah ini penting agar daging yang dibagikan benar-benar tayyib, aman, dan layak dikonsumsi masyarakat.
Qurban sebagai Instrumen Keadilan Sosial
Bagi Ustadz Aher, Iduladha harus menjadi momentum kebahagiaan bersama. Distribusi daging qurban perlu diprioritaskan kepada fakir miskin, masyarakat kurang mampu, dan warga yang jarang menikmati protein hewani.
Melalui sistem distribusi yang tepat sasaran, qurban menjadi sarana pemerataan kesejahteraan dan penguatan solidaritas sosial di tengah masyarakat.
Selain itu, ibadah qurban juga memberikan dampak ekonomi yang besar bagi peternak lokal. Permintaan hewan qurban yang meningkat setiap tahun membantu menggerakkan ekonomi daerah dan memperkuat ketahanan pangan umat.
Menjadikan Qurban sebagai Gerakan Kebaikan Umat
Kajian qurban yang disampaikan Ustadz Aher mengajarkan bahwa ibadah ini tidak boleh dipahami secara sempit sebagai ritual tahunan semata. Qurban adalah perpaduan antara ketakwaan kepada Allah, kepedulian sosial, keberanian menjalankan sunah, serta tanggung jawab menjaga kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.
Semangat Iduladha menjadi momentum untuk memperkuat nilai pengorbanan, keikhlasan, dan persatuan umat demi menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

