Tumbuh di Tengah Kesibukan Dakwah: Catatan Seorang Anak Anggota

“Nak, nanti ikut pembinaan, ya.”

Mungkin bagi sebagian anak, kalimat itu terdengar seperti ajakan biasa. Tapi bagi saya, kalimat itu sudah menjadi bagian dari perjalanan hidup sejak SMP.

Saya adalah salah satu anak anggota, atau yang hari ini lebih sering kita sebut sebagai anak kader. Sejak SMP, orang tua saya sudah mengarahkan saya untuk ikut pembinaan. Saya bersekolah di SMP negeri, bukan sekolah Islam atau sekolah yang secara khusus punya lingkungan pembinaan keislaman. Karena itu, saya juga pernah diminta untuk mengajak teman-teman SMP untuk ikut belajar bersama.

Awalnya mungkin terasa seperti, “Kenapa sih harus ikut?”

Tapi ternyata, dari sanalah saya mulai mengenal liqo, belajar Islam bersama teman sebaya, berdiskusi, dan pelan-pelan memahami bahwa menjadi seorang muslim bukan hanya tentang apa yang kita tahu, tetapi juga bagaimana kita menjalani kehidupan.

Seiring bertambah usia, saya mulai melihat sesuatu yang dulu mungkin belum terlalu saya pahami: orang tua ternyata sangat sibuk.

Ada rapat, kegiatan, agenda dakwah, pertemuan, dan berbagai aktivitas lainnya. Kadang mereka harus pergi ketika saya ingin mengajak ngobrol. Kadang akhir pekan yang bagi sebagian orang adalah waktu untuk bersantai, justru menjadi waktu yang penuh agenda.

Dulu mungkin saya hanya melihat, “Orang tua kok sibuk terus?”

Tapi semakin dewasa, saya mulai memahami bahwa di balik kesibukan itu ada sesuatu yang sedang mereka perjuangkan.

Mereka ingin nilai-nilai Islam yang mereka rasakan hari ini tidak berhenti di generasinya. Mereka ingin anak-anaknya tumbuh mengenal Islam, mencintainya, dan suatu hari mampu meneruskannya.

Dan ternyata, saya bukan satu-satunya anak yang mengalami cerita seperti ini.

Kemarin, saya berkesempatan berkumpul bersama anak-anak anggota lainnya. Kami datang dari latar belakang yang berbeda, dengan cerita masa kecil yang mungkin tidak sama persis, tetapi punya benang merah yang sama: kami tumbuh di tengah orang tua yang aktif dalam dakwah.

Di sana saya kembali diingatkan bahwa kami bukan sekadar “anaknya kader”.

Kami adalah generasi yang sedang dipersiapkan.

Ada pesan Ust. Erwin, Ketua BKAP DPW PKS Jawa Barat, yang cukup membekas: kalau sedang bingung menentukan pilihan, lihat mana yang lebih besar kebaikannya dan mana yang lebih besar mudharatnya.

Sederhana, tapi rasanya relevan dengan perjalanan kami.

Karena pada akhirnya, orang tua kami mungkin tidak selamanya bisa menemani perjuangan ini. Akan ada waktunya estafet itu berpindah.

Pertanyaannya kemudian menjadi lebih besar:

Apakah anak cucu kita nanti masih bisa merasakan indahnya Islam seperti yang kita rasakan hari ini?

Semoga jawabannya adalah iya.

Dan mungkin, itulah alasan kenapa sejak SMP dulu saya diminta ikut liqo. Kenapa saya diajak belajar. Kenapa saya diminta mengajak teman. Kenapa orang tua saya rela membagi waktunya untuk banyak hal.

Karena mereka sedang menanam sesuatu yang mungkin hasilnya baru akan terlihat jauh setelah mereka selesai berjuang.

Kami adalah anak-anak yang sedang tumbuh dari perjuangan itu. Dan semoga suatu hari, kami mampu meneruskannya.